Dari kiri, Kadinkes Ismail Bey, Wabup Khalil Asyari, dan Kepala KKP Lukman Hadi mengisi acara sosialisasi jajanan dan kantin sehat, kemarin.

 

Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Pamekasan sosialisasikan kantin sehat dan pengenalan jajanan sehat untuk siswa sekolah dasar (SD), kemarin (4/6). Sosialiasi dilaksanakan di Kecamatan Tlanakan, Kecamatan Proppo, dan Kecamatan Kota Pamekasan. Acara tersebut dihadiri wakil bupati Pamekasan, kepala SKPD terkait, kepala SD/SDI, dan pengelola kantin sekolah.

Kepala KKP Pamekasan Drs. Lukman Hadi, M.Si mengatakan, tujuan diselenggarakannya sosialisasi tersebut untuk meningkatkan pemahaman yang nantinya diharapkan bisa menyediakan jajanan sehat di sekolahnya masing-masing, khususnya bagi penanggung jawab dan pengelola kantin sekolah. ”Kami ingin anak-anak generasi penerus bangsa menjadi anak-anak yang sehat, tangguh, dan andal di masa mendatang,” kata Lukman.

Selain itu, pihaknya berharap dengan sosialisasi itu bisa meningkatkan citra pangan lokal di kalangan siswa SD/SDI, sehingga ada rasa bangga bagi siswa jika mengonsumsi jajanan yang terbuat dari bahan pangan lokal. ”Pokoknya, diharapkan nanti pengelola kantin sekolah bisa menyediakan jenis makanan yang terbuat dari bahan nonberas dan nonterigu yang bebas dari tambahan pangan yang membahayakan,” tambahnya.

 

 

ISU KONTAMINASI BAKTERI BAKTERI PADA PANGAN SEGAR

Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Pamekasan sebagai Institusi yang mempunyai kewenangan dalam pengawasan keamanan pangan segar di kabupaten Pamekasan melakukan komunikasi risiko kepada masyarakat guna meredakan kepanikan masyarakat dengan menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat sebagai berikut :

a.   Kasus Listeriosisya itu penyakit yang timbul akibat mengkonsumsi makanan yang mengandung Listeria Monocytogenes yang sebenarnya jarang terjadi, namun dapat berakibat fatal bagi penderitanya. Listeriosis mudah menyerang ibu hamil, anak balita, manula dan orang dengan sistem imun yang rendah, seperti penderita HIV atau kanker sedangkan pada orang dengan kondisi normal relative tidak berbahaya.

b.  Sumber Kontaminasi bakteri ini adalah berasal dari air, tanah, lingkungan, hewan maupun makanan.

c.  Pencegahan Kontaminas dapat dilakukan dengan menerapkan persyaratan dasar keamanan pangan (Good Agricultural Practices, Good Manufacturing Practices, Good Distribution Practices, dll)

d.    Untuk sementara tidak mengkonsumsi apel jenis Granny Smith dan Gala jika tidak diketahui asal usulnya, namun demikian tidak menutup kemungkinan Kontaminasi Listeria Monocytogenes pada produk buah dan sayur lainnya. Oleh karena itu masyarakat diminta untuk mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi.

e.   Karena sifat dari Lisreria Monocytogenes yang tahan terhadap suhu dingin sekalipun, maka disarankan kepada konsumen rumah tangga agar membersihkan kulkas / lemari pendingin secara teratur.

 

Atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

 

KANTOR KETAHANAN PANGAN KABUPATEN PAMEKASAN

               

Kepala KKP Pamekasan Moh. Sjaiful Arifin memberikan sambutan kepada peserta sosialisasi Kantin Sekolah Sehat, kemarin.

PAMEKASAN – Terwujudnya siswa sehat dan aman dari konsumsi makanan membahayakan menjadi perhatian serius Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Pamekasan. Kemarin (28/10), KKP menggelar sosialisasi Kantin Sekolah Sehat dan pengenalan jajanan sehat di gedung serbaguna.

Kegiatan tersebut diikuti 160 peserta yang terdiri dari kepala sekolah dan pengelola kantin sekolah. Peserta sosialisasi meliputi utusan 80 SD yang bernaung di Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Proppo dan Tlanakan.

Demi mewujudkan target sosialisasi Kantin Sekolah Sehat, KKP mendatangkan petugas Dinas Pendidikan Pamekasan sebagai pemateri. Bahkan praktisi kesehatan dari Unesa juga diundang untuk memberikan pemahaman akan pentingnya mengonsumsi makanan sehat.

Kepala KKP Pamekasan Moh. Sjaiful Arifin mengatakan, tujuan sosialisasi tidak lain agar kantin sekolah menyediakan berbagai jenis makanan yang bebas dari bahan membahayakan. ”Faktor penentu mutu makanan adalah keragaman jenis pangan, keseimbangan gizi, dan keamanan pangannya,” jelas dia. (sin/hud)

 

 

 

PEDOMAN TEKNIS
PEMANTAUAN DAN ANALISIS HARGA PANGAN
TINGKAT KONSUMEN


I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ketahanan Pangan merupakan bagian terpenting dari pemenuhan hak
atas pangan sekaligus merupakan salah satu pilar utama hak azasi manusia.
Ketahanan pangan juga merupakan bagian sangat penting dari ketahanan
nasional. Dalam hal ini hak atas pangan seharusnya mendapat perhatian yang
sama besar dengan usaha menegakkan pilar-pilar hak azasi manusia lain.
Ketahanan pangan tidak hanya mencakup pengertian ketersediaan pangan
yang cukup, tetapi juga kemampuan untuk mengakses (termasuk membeli)
pangan dan tidak terjadinya ketergantungan pangan pada pihak manapun.
Pembangunan ketahanan pangan merupakan perwujudan ketahanan
pangan yang berlandaskan pada optimalisasi pemanfaatan sumber daya,
budaya serta kelembagaan lokal yang secara bersama menjadi tanggung jawab
pemerintah dan masyarakat sebagaimana tertuang dalam UU No 7 Tahun
1996 tentang Pangan. Peraturan Pemerintah (PP) No 38/2007 tentang
Pembagian urusan pemerintah dalam hal ini Pemerintah Pusat, Provinsi dan
kabupaten/Kota menjadikan ketahanan pangan menjadi urusan yang wajib.
Harga pangan merupakan salah satu indikator yang dapat menjelaskan
kondisi ketahanan pangan suatu wilayah. Pengamatan terhadap kondisi harga
bahan pangan dapat berguna untuk berbagai hal seperti ketersediaan pasokan,
permintaan, kelancaran distribusi pangan, kondisi perdagangan di pasar
internasional, dampak implementasi kebijakan pemerintah, daya beli
masyarakat, kesejahteraan petani/produsen, dsb. Dengan menganalisis
informasi harga pangan, akan dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan yang
diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah yang terkait dengan harga dan
ketahanan pangan.
Agar kebijakan dapat dirumuskan dengan tepat dan sesuai dengan
kondisi yang sebenarnya, diperlukan adanya data dan informasi harga pangan
yang akurat, tepat waktu, objektif dan konsisten, melalui rangkaiana kegiatan
pemantauan, pengumpulan, kompilasi, pengolahan dan analisis data.
Mengingat besarnya implikasi ketersediaan informasi harga pangan terhadap
kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah, diperlukan upaya agar data
harga pangan dapat tersedia dan dapat digunakan sebagai acuan dalam
perumusan kebijakan. Oleh karena itu diperlukan pedoman sebagai acuan
pelaksanaan pengumpulan dan analis data harga pangan terutama bagi instansi
yang terkait dengan ketahanan pangan di daerah.


2. Tujuan
Pedoman Analisis Harga ini disusun sebagai acuan, khususnya bagi
instansi yang terkait dengan ketahanan pangan di daerah untuk melaksanakan
pemantauan dan analisis harga pangan pokok strategis di tingkat konsumen
maupun produsen menggunakan instrumen yang telah disiapkan.
Adapun manfaatnya adalah :
a. Mendapatkan data dengan cepat, mudah dan murah secara kontinyu (time
series) yang berhubungan dengan kondisi pasokan, harga dan ketersediaan
aktual komoditas bahan pangan;
b. Mengidentifikasi potensi permasalahan yang berhubungan dengan
komoditas bahan pangan yang menyebabkan terganggunya pasokan dan
harga komoditas pangan di kabupaten/kota;
c. Menganalisis data yang diperoleh sebagai bahan untuk merumuskan
kebijakan pemerintah yang kondusif yang dapat mendorong peningkatan
produksi, memperlancar distribusi pangan, meningkatkan pengembangan
produk bahan pangan dan kesejahteraan petani.


II. Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan pemantauan dan analisis data harga pangan
meliputi :
1. Pemantauan harga pangan eceran di pasar tradisional kabupaten/kota se Jawa
Barat;
2. Pemantauan terhadap harga pangan di tingkat pedagang besar (grosir);
3. Informasi tentang faktor-faktor eksternal dan internal lainnya yang
mempengaruhi distribusi dan harga pangan, seperti kondisi ketersediaan
pasokan, permintaan dan stok bahan pangan pokok strategis, harga di pasar
internasional, dan sebagainya.
Sebagaimana pemantauan harga pangan di pasar domestik, harga pangan
di pasar internasional juga perlu dipantau untuk mengetahui perbedaan dinamika
harga pangan sehingga dapat diambil langkah-langkah yang tepat untuk
mengatasi krisis pangan yang mungkin terjadi di Indonesia.
Bahan pangan yang dipantau terutama meliputi 9 (sembilan) komoditi
pangan strategis, yaitu Beras, Gula Pasir, Minyak Goreng, Cabe Merah,
Kacang Tanah, Bawang Merah, Daging Sapi, Daging Ayam dan Telur
Ayam. Walaupun demikian jumlah dan jenis komoditi yang dipantau dapat
disesuaikan dengan konsumsi masyarakat setempat.


III. Metode Pemantauan dan Pengumpulan Data
1. Pengertian
Untuk menjamin konsistensi terhadap data yang dikumpulkan, setiap pencatat
harus memahami pengertian/definisi sebagai berikut :
a) Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah
tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah
maupun mutu, aman, merata dan terjangkau;
b) Pangan adalah sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang
diolah maupun tidak diolah yang diperuntukan sebagai makanan atau
minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan,
bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses
penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman;
c) Produksi komoditas bahan pangan adalah kegiatan atau proses yang
menghasilkan komoditas bahan pangan (beras, daging sapi, daging ayam,
cabe merah, bawang merah, dll) dari petani di suatu wilayah;
d) Distribusi Komoditas bahan Pangan adalah kegiatan menyalurkan atau
menyebarkan produk komoditas bahan pangan dari wilayah produsen ke
wilayah konsumen,dan atau dari pasar ke konsumen;
e) Satuan Barang adalah ukuran satuan yang lazim dipakai untuk pembelian
secara eceran. Satuan dari masing-masing barang haruslah jelas dan tegas.
Misalnya kg, liter, bijian dan sebagainya.
f) Kualitas/Merk setiap jenis adalah sesuatu yang ditulis secara jelas untuk
menunjukkan nama dan kualifikasi suatu produk barang tertentu, misalnya
beras kelas super, kelas medium, minyak goreng curah dan botolan atau
yang biasanya disesuaikan dengan kemasan.
g) Konsumen adalah pihak yang memanfaatkan komoditas bahan pangan
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat sehari-hari;
h) Pasar adalah suatu tempat dimana terjadinya pemindahan barang atau
transaksi antara penjual dan pembeli, atau tempat dimana lazimnya
terdapat permintaan dan penawaran atau pemberian jasa baik secara
eceran maupun dalam jumlah besar. Pasar yang dianggap mewakili
wilayah pencatatan adalah pasar dengan kriteria :
o Paling besar di kota tersebut
o Beranekaragam jenis barang dagangan dan jenis pedagang
o Banyak memiliki pedagang pengecer yang berjualan dan melayani
kebutuhan masyarakat banyak
o Kelangsungan (kontinyuitas) pencatatan data harga pada pasar tersebut
harus terjamin.
i) Pedagang Besar adalah pedagang komoditas bahan pangan yang membeli
dari pedagang pengumpul dan mendistribusikan ke setiap pedagang
pengecer ataupun pasar.
j) Pasar Grosir adalah pasar berukuran besar, aktivitasnya sehari penuh,
dan menyediakan beranekaragam jenis komoditas bahan pangan seharihari
dan memiliki banyak pedagang grosir dan pengecer untuk komoditas
bahan pangan.
k) Harga Grosir adalah harga transaksi secara tunai yang terjadi antara
penjual (pedagang besar) dan pedagang eceran.
l) Pedagang Eceran adalah pedagang yang menjual atau menyerahkan
barang dagangannya secara langsung kepada pembeli untuk langsung
dikonsumsi bukan untuk dijual kembali.
m) Harga Eceran adalah harga transaksi secara tunai yang terjadi antara
penjual (pedagang) dan pembeli (konsumen langsung) secara eceran.
2. Jenis Data Harga Pangan Yang Dikumpulkan
a) Harga pangan eceran di tingkat konsumen di pasar perdesaan dan
perkotaan;
b) Harga pangan di tingkat grosir/wholesale market;
c) Harga pangan di pasar internasional.
3. Frekuensi Pengumpulan Data Harga Pangan
Data harga pangan dikumpulkan secara berkala (time series) dengan frekuensi
harian atau mingguan dan dikompilasi secara bulanan dan tahunan.
4. Data Pendukung
Untuk menganalisis data harga yang telah dikumpulkan, diperlukan data
pendukung yaitu :
a) Jumlah Pasokan dan Kebutuhan
b) Volume Ekspor /Impor
c) Harga Sarana Produksi
d) Biaya Transportasi
e) Indeks Harga Konsumen
f) Nilai Tukar Petani
g) Upah
h) Pola Tanam
i) Kondisi Cuaca/Iklim
j) Tarif ekspor dan Impor
k) Kurs Mata Uang, dsb
5. Kualifikasi Data Harga Yang Dikumpulkan
Untuk menghasilkan suatu kebijakan yang baik dan benar, maka data yang
dikumpulkan harus memenuhi kualifikasi :
a) Akurat, yaitu data yang tepat ukuran dan dapat dipertanggungjawabkan
b) Reliabel, yaitu data yang objektif tepat gambaran sesuai di lapangan
c) Up to date dan timely, yaitu data yang dapat diakses secara tepat waktu
dan baru
d) Lengkap, mencakup data penunjang atau pendukung lainnya.
6. Sumber Data
Data primer yang dikumpulkan dapat bersumber dari :
a) Data Primer yaitu data yang diamati langsung dari obyeknya dengan
menggunakan :
o Metode Sampling : mengamati sebagian obyek yang dipilih secara
acak atau purposive (random sampling, stratified sampling, purposive
sampling).
o Metode Panel : mengamati dinamika harga secara terus menerus dari
sampel yang sama yang dipilih secara purposive atau acak.
b) Data Sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan Instansi lain seperti
BPS, Departemen Perdagangan, Dinas Pasar, Pasar Induk Kramat Jati,
Pasar Induk Beras Cipinang, Badan Usaha Logistik, Bank Indonesia, FAO
(www.fao.org) Bank Dunia (www.worldbank.com), Sugar Online
(www.sugaronline.com) Oryza (www.oryza.com), dan lainnya.
c) Jika data sekunder tersedia, mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan
analisis, maka pemantauan harga pangan oleh instansi yang terkait dengan
ketahanan pangan cukup dilakukan dengan mengkompilasi data sekunder
tersebut secara teratur.
d) Hasil pemantauan dengan format yang telah ditentukan dapat dikirim ke
Provinsi melalui Fax, e mail, dan SMS (khusus SMS ini masih dalam
tahap pengembangan).
7. Pengumpulan Data Primer
Jika data sekunder tidak tersedia atau tersedia tetapi sulit diakses, atau tersedia
tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan analisis, maka data primer dapat
dikumpulkan dengan cara sebagai berikut :
a) Harga pangan eceran dikumpulkan dari pasar eceran utama yang
memperdagangkan berbagai bahan pangan pokok/strategis yang
diperlukan oleh masyarakat
b) Harga pangan di tingkat grosir dikumpulkan dari pasar grosir, pasar induk
atau pasar besar yang memiliki banyak pedagang grosir.
c) Pasar tempat pencatatan umumnya adalah pasar yang paling besar di
wilayah tersebut, menyediakan beraneka ragam jenis barang dagangan dan
jenis pedagang, memiliki banyak pedagang pengecer atau grosir yang
berjualan dan melayani kebutuhan masyarakat banyak, dan dapat
menjamin kontinyuitas pencatatan data harga.
d) Pencatatan data dilakukan terhadap 3 pedagang yang dipilih secara acak
untuk mewakili keseluruhan pedagang di pasar tersebut. Pemilihan
pedagang dilakukan dengan mengambil masing-masing satu pedagang
yang letaknya di depan, tengah, dan di belakang.
e) Sampel pedagang yang disurvey tidak berubah sepanjang waktu
pencatatan, kecuali jika pedagang tersebut tidak dapat lagi menjadi sampel
karena alasan tertentu.
f) Data yang dicatat adalah rata-rata harga bahan pangan pokok/strategis
yang dibayar oleh konsumen (harga transaksi dari 3 pedagang sampel
tersebut). Pencatatan dilakukan setiap hari.
8. Pengolahan dan Analisis Data
a) Data yang telah dikumpulkan kemudian dikompilasi, ditabulasi menjadi
data mingguan, bulanan dan tahunan. Untuk pengelolaan data lebih baik
dan teratur dapat dibuat data base melalui Sistem Informasi Manajemen.
b) Untuk memudahkan interpretasi data harga diolah dengan membuat tabeltabel,
grafik, dan beberapa nilai statistik dasar seperti :
o Maksimum/Minimun yaitu nilai tertinggi dan terendah. Digunakan
untuk menunjukkan kapan dan dimana harga tertinggi atau terendah.
o Pertumbuhan yaitu persentase kenaikan/penurunan harga yang
dihitung sebagai : (harga waktu ke t harga waktu ke (t-1))/harga waktu
ke (t-1)* 100 %.
o Rata-rata : dihitung dengan menjumlahkan semua data, kemudian
dibagi dengan banyaknya pengamatan. Digunakan untuk menunjukkan
nilai tengah harga.
- Rata-rata harga mingguan : diperoleh dengan merata-ratakan data
harga harian selama seminggu.
- Rata-rata harga bulanan : diperoleh dengan merata-ratakan harga
harian selama sebulan (sejak tanggal 1 hingga akhir bulan).
- Rata-rata harga setahun : diperoleh dengan merata-ratakan harga
bulanan selama satu tahun (sejak bulan Januari sampai dengan
Desember)
o Median adalah nilai pengamatan yang urutannya terletak paling
tengah. Digunakan untuk menjelaskan bahwa 50 % nilai pengamatan
berada di bawah dan 50 % berada diatas nilai median tersebut.
o Modus adalah nilai pengamatan yang paling sering terjadi. Digunakan
untuk menunjukkan pada tingkat berapa harga sering terjadi di suatu
wilayah.
o Simpang Baku adalah rata-rata simpangan data terhadap nilai
tengahnya. Semakin besar simpangan baku, semakin beragam datanya.
o Koefisien Varieance/CV/Keragaman Data adalah standard
deviasi/simpangan baku dibagi dengan rata-rata. Digunakan untuk
menunjukkan fluktuasi harga dalam satu periode. Semakin besar
koefisien kergamanan, maka data semakin fluktuatif.
o Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan perbandingan harga
beberapa barang konsumsi saat itu dengan harga pada tahun dasar.
IHK menggambarkan tingkat inflasi di tingkat konsumen. Data IHK
dapat diperoleh dari BPS. Saat ini BPS menggunakan tahun 2007
sebagai tahun dasar.
Contoh : Menurut BPS, IHK pada bulan Juni 2009 untuk kelompok
pengeluaran bahan makanan sebesar 121,56 artinya harga bahan
makanan pada bulan Juni 2009 lebih tinggi 21,56 % dibandingkan
bulan Juni tahun 2007.
o Harga Riil menggambarkan nilai riil yang dibayar konsumen
dibandingkan dengan tahun dasar, dihitung dengan rumus : harga
dibagi dengan IHK.
Contoh : Jika harga beras pada bulan Juni 2009 = Rp. 5.500/kg, dan
IHK bulan Juni 2008 = 121,56 persen, maka harga riil beras yang
dibayar konsumen setara dengan = Rp. 5.500/1,2156 = Rp. 4.525/kg
pada bulan Juni tahun 2007.
o Konversi Harga (Paritas) Pangan Internasional, meliputi :
- Harga fob adalah harga di negara asal (dalam USD)
- Harga cif adalah harga di pelabuhan = harga fob + freight and
insurance (22 USD)
- Harga cif dalam rupiah adalah harga cif x nilai tukar rupiah
- Harga beras impor di pelabuhan (Border Price) adalah harga cif
dalam rupiah + tarif (Rp. 450/kg)
- Harga paritas beras impor adalah Border Price + ppn (2,5 %) +
biaya bongkar muat dan transport (15 %).
c) Analisis terhadap nilai-nilai statistik tersebut dapat dilakukan dengan
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi harga seperti kondisi
pasokan pangan di pasar, kelancaran arus distribusi, kondisi sosial
masyarakat, kejadian bencana alam, kebijakan pemerintah yang berlaku,
dan sebagainya.
d) Analisis peramalan harga dapat juga dilakukan dengan menggunakan
metode dan data time series yang tersedia.


IV. Pemanfaatan Hasil Pemantauan dan Analisis Data Harga Pangan
Hasil analisis harga pangan yang dilakukan secara periodik dan kontinyu,
merupakan bahan masukan penting bagi penentu kebijakan harga dan distribusi
pangan. Terjadinya fluktuasi harga pangan yang tajam dapat menunjukan adanya
permasalahan pada pasokan atau permintaan terhadap bahan pangan tersebut, dan
umumnya berkaitan dengan kelancaran arus distribusi pangan. Perkembangan
harga pangan juga dapat digunakan untuk menganalisis tentang kemampuan daya
beli masyarakat, aksesibilitas pangan oleh masyarakat, kemungkinan terjadinya
kerawanan pangan di suatu wilayah, dan sebagainya.
Berbagai kebijakan Pemerintah yang dirumuskan melalui hasil
pemantauan dan analisis harga pangan antara lain adalah :
Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah :
a. Kebijakan Operasi Pasar Murni atau Operasi Pasar Khusus untuk mengatasi
gejolak harga pangan
b. Kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas ketersediaan, distribusi dan harga
pangan menghadapi Hari-Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN)
c. Kebijakan Tarif/Pajak, dan lain-lain.
Instansi yang terkait dengan ketahanan pangan di daerah sebagai
Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan di wilayahnya, dapat menyampaikan hasil
analisis perkembangan harga kepada Gubernur/Bupati selaku Ketua Dewan
Ketahanan Pangan di wilayahnya secara periodik agar jika terjadi masalah, dapat
segera melakukan koordinasi dengan instansi/lembaga terkait untuk menentukan
kebijakan yang diperlukan.

V. Penutup
Penyusunan pedoman pengumpulan data ini dibuat agar dapat dijadikan
bahan acuan bagi unit kerja yang menangani ketahanan pangan di kabupaten/kota
dalam pelaksanaan pemantauan harga baik di tingkat konsumen maupun
produsen.
Pedoman teknis ini masih terbuka untuk diperbaiki dan disempurnakan
disesuaikan dengan kebutuhan spesifik daerah. Kesinambungan pelaporan dari
daerah akan dapat memberikan kelengkapan data dan informasi bagi Badan
Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat untuk selanjutnya diolah dan disampaikan
ke Pusat sebagai bahan perencanaan dan perumusan kebijakan ketahanan pangan
di tingkat Nasional.
Lampiran 1
Kriteria Bahan Pangan Pokok/Strategis
No Jenis Komoditi Kriteria secara visual
1. Beras :
Beras IR 64 kualitas 1 Normalnya beras jenis ini pulen jika dimasak
menjadi nasi, namun jika telah berumur terlalu lama
(lebih dari 3 bulan) maka beras ini menjadi sedikit
pera, dan mudah basi ketika menjadi nasi. Beras ini
memiliki ciri fisik agak panjang / lonjong, tidak
bulat.
Beras IR kualitas II Relatif sama dengan beras IR64 kualitas I
Beras lainnya Adalah beras spesifik lokasi/unggulan daerah dan
termasuk dominan dikonsumsi masyarakat.
2 Kacang Tanah : Berasal dari kacang polong yang kering dan sudah
dikupas, berwarna merah jambu, kering, tidak
keriput.
3 Cabe : Dipantau cabe yang sehat, tidak busuk.
Cabe Merah Besar (TW) Warna siap panen merah cerah, mengkilap/licin,
permukaan kulit rata/halus; besar ukuran buah +
sebesar jari telunjuk orang dewasa dan panjang ratarata
+ 10 – 12 cm.
Cabe Merah Keriting Warna merah cerah, permukaan kulit buah tidak
rata/keriting; panjang + 10 – 11 cm tidak
lurus/cenderung spiral.
4 Bawang Merah Umbi lapis dari tanaman bawang merah yang terdiri
dari siung-siung bernas, utuh, segar dan bersih. Ada
2 jenis mutu : 1) kesamaan sifat varietas. Mutu I :
seragam mutu Mutu II : seragam 2) tingkat ketuaan.
Mutu I : tua mutu Mutu II : cukup tua 3) kekerasan.
Mutu I : keras mutu Mutu II : cukup keras 4)
diameter min (cm). Mutu I : 1,7 % Mutu II : 1,3 %
5) Kerusakan %. Mutu I : 5 % Mutu II : 8 % 6)
Busuk %. Mutu I : 1 % Mutu II : 2 % 7) kotoran %.
Mutu I : tidak ada Mutu II : tidak ada
5 Gula Pasir Adalah gula pasir/kristal eks tebu, warna putih s/.d
putih kuning
6 Minyak Goreng Curah Ada dua jenis yakni eks CPO/sawit dan eks
kopra/kelapa dengan kemasan pabrikan antara 10 –
15 liter/galon : dijual dalam eceran dalam kemasan
kantong plastik per 1 liter atau 1 kg.
7 Daging Sapi Warna merah segar, warna daging berkilap, cerah
dan tidak pucat, tidak berbau asam dan bau busuk,
serta halus dan lemak berwarna kekuning-kuningan,
keadaan daging tidak keras/kaku (elastis), jika
dipegang masih terasa kebasahannya namun tidak
lengket di tangan, PH 5,4 – 5,8, bersih, tidak berair
dan ada cap.
8 Daging Ayam Ras Tidak ada luka pada tubuh, bebas dari memar, bulubulu
jarum tidak ada tulang yang patah dan cacat,
daging tidak berbau asam atau busuk, karkas ayam
biasanya tidak ada kepala, kaki dan jerohan, apabila
masih ada kepala mata jernih dan cerah, bentuk
tulang dada melengkung, ramping seperti perahu,
punggung rata tidak melengkung tajam, bagian dada,
paha dan sayap padat berisi dan lapisan daging tebal,
warna keperak-keperakan dan merah.
9 Telur Ayam Ras Bila diteropong bagian kuning tampak jelas dan
terletak di tengah (terpusat baik), nampak terang,
bebas dari kerusakan dan noda, bila digoyang tidak
berbunyi gemercik, bila dimasukan air garam akan
tenggelam, cangkang bersih, tidak pecah, bentuk
normal, ruang udara 3 mm atau lebih kecil, letak
tidak teratur, putih telur jernih pekat.

 

KKP GELAR SOSIALISASI KANTIN SEKOLAH SEHAT

Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Pamekasan menggelar sosialisasi Kantin Sekolah sehat, kemarin (26/2) di gedung PKPNRI di jl Kemuning. Kegiatan itu dilakukan dalam rangka pengembangan mutu pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman untuk anak sekolah. Acara yg digelar itu diikuti seluruh Kepala Sekolah se-Kecamatan Pamekasan.

Hadir di acara tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Pamekasan (Sekkab) Pamekasan Alwi Beiq. Dia sangat mengapresiasikan kegiatan Kantin Sekolah Sehat. Kegiatan ini merupakan program prioritas pemerintah yang meliputi pendidikan dan kesehatan. Kami ingin mempraktekkan kepada anak-anak sekolah tentang jajanan sehat.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan Drs. MOH. SJAIFUL ARIFIN, M.Si menjelaskan, bertindak sebagai narasumber dalam sosialisasi Kantin Sekolah Sehat yaitu Laili Rahmawati. Ditambahkan, sosialisasi itu merupakan bentuk penguatan peran serta pemerintah dalam hal keamanan pangan. Selain itu, sosialisasi juga untuk mendorong pengelola kantin sekolah agar mampu menyediakan jajanan atau minuman yang sehat dan aman.

Lembaga kesehatan dunia WHO menginformasikan, 90 persen masalah kesehatan manusia terkait dengan kualitas makanan yang dikonsumsi. Ketidakseimbangan gizi akan membawa dampak pada munculnya gizi yang kurang. Nah kegiatan ini merupakan agenda untuk membudayakan pola konsumsi pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA) papar Kepala kantor Ketahanan Pangan Drs. MOH. SJAIFUL ARIFIN, M.Si di sela –sela sambutannya kemarin.

 

Page 1 of 2